Guru SMK Tak Cukup Hanya Terampil, Mereka Perlu Belajar Melihat Peluang

oleh -28 Dilihat

Cianjur, — Kompetensi guru SMK tidak boleh berhenti pada kemampuan menguasai teori dan praktik di ruang pelatihan. Guru juga perlu memahami bagaimana sebuah keterampilan dapat diterapkan, dikembangkan, bahkan memiliki nilai ekonomi di dunia nyata. Hal ini menjadi salah satu pesan utama dalam Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Kejuruan Berbasis Dunia Kerja Moda Luring Angkatan 4 di BBPPMPV Pertanian Cianjur.

Sebanyak 147 guru SMK mengikuti pelatihan tujuh kompetensi keahlian, yakni Bakery & Pastry, Hidroponik Melon, Pengolahan Buah, Anggrek, Penetasan Telur, Hijauan Pakan Ternak, dan Rekayasa Pakan Buatan. Pelatihan dirancang dalam rangkaian 120 jam pelajaran, terdiri atas 40 JP pembekalan, 70 JP pengalaman di dunia kerja, serta 10 JP uji kompetensi dan sertifikasi.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat mengatakan penguasaan kompetensi perlu disertai _business mindset_, yakni cara berpikir yang mendorong seseorang terus melihat peluang dan menciptakan nilai tambah dari apa yang dimiliki.

“Kalau kita punya kompetensi produksi tapi tidak bisa dikomersialisasi itu yang bikin frustasi. Akhirnya kompetensi hanya menutup basa-basi saja,” ujar Atip.

Menurut Atip, _business mindset_ tidak semata-mata berbicara mengenai perdagangan atau keuntungan. Lebih dari itu, cara berpikir tersebut membuat seseorang aktif mencari kemungkinan agar sesuatu yang tersedia dapat memberikan manfaat.

Dalam konteks pertanian, Atip melihat kompetensi yang dimiliki guru dapat dikembangkan jauh melampaui proses produksi. Dari pertanian dapat tumbuh agribisnis hingga agrowisata. Karena itu, kompetensi teknis perlu berjalan bersama kemampuan melihat proses dari hulu hingga hilir.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, yang turut hadir dalam acara tersebut, mengatakan pengalaman langsung diperlukan agar kompetensi yang diperoleh guru tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi benar-benar dipraktikkan dan dibawa kembali ke sekolah.

“Yang paling penting di samping ngajar coba dipraktikkan. Karena kalau _upskilling_ di sini, lalu pulang dan tidak pernah dipraktikkan di kelas, hanya lihat siswa, itu enggak akan banyak berkembang,” ujar Tatang.

Menurut Tatang, kompetensi yang dipelajari guru dapat dikembangkan menjadi praktik nyata, termasuk peluang usaha yang dapat melibatkan peserta didik. Karena itu, ia meminta guru tidak berhenti setelah memperoleh ilmu dari pelatihan.

“Jadi, Bapak Ibu klik dengan ilmu dan kalau bisa diimplementasikan,” katanya.

Setelah pembekalan, peserta akan menjalani pengalaman di dunia kerja selama 70 JP sebelum mengikuti uji kompetensi dan sertifikasi. Tahapan tersebut memberi kesempatan kepada guru untuk melihat secara langsung praktik, proses, dan budaya kerja di industri.

Kepala BBPPMPV Pertanian Cianjur Joko Ahmada Julifan mengatakan pelatihan berbasis dunia kerja merupakan bagian dari upaya memfasilitasi peningkatan kompetensi guru kejuruan. Pengalaman yang diperoleh peserta diharapkan dibawa kembali ke satuan pendidikan dan diterapkan dalam pembelajaran.

Bagi Tatang, pengalaman tersebut juga dapat mengubah cara peserta didik melihat bidang pertanian yang selama ini kerap dipersepsikan secara konvensional.

“Kalau kita tunjukkan saya bisa berbuat seperti ini, maka anak-anak itu (berpikir), kok ternyata pertanian itu asik,” kata Tatang.

Dengan demikian, pelatihan tidak hanya berhenti pada penambahan kompetensi guru saja. Pengalaman industri diharapkan masuk ke ruang kelas, sementara _business mindset_ membantu guru menunjukkan kepada peserta didik bahwa keterampilan dapat berkembang menjadi produk, inovasi, dan peluang.(Feri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.