Gus Rozin Usung Visi NU Berdaulat, Bermartabat, dan Bermanfaat Menuju Abad Kedua

oleh -28 Dilihat

Jombang, – Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Jombang, KH Abdul Ghaffar Rozin atau yang akrab disapa Gus Rozin menawarkan visi besar untuk membawa NU memasuki abad kedua sebagai organisasi yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat. Menurutnya, momentum pergantian kepemimpinan harus dimanfaatkan untuk memperkuat jam’iyyah agar semakin mampu melayani jamaah, menjaga persatuan, serta menghadirkan kemaslahatan bagi bangsa dan dunia.

Gus Rozin merupakan sosok yang lahir dan tumbuh dalam tradisi pesantren. Ia ditempa langsung oleh almarhum KH MA Sahal Mahfudh, Rais Aam PBNU periode 1999–2014, yang menanamkan nilai bahwa ilmu pengetahuan harus memberikan manfaat bagi masyarakat. Perjalanan akademiknya ditempuh mulai dari lingkungan pesantren, perguruan tinggi Islam, hingga Monash University, Australia.

Pengalaman tersebut diperkuat melalui berbagai amanah strategis yang pernah diembannya, di antaranya sebagai Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU, Katib Syuriyah PBNU, Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah, hingga Ketua Majelis Masyayikh. Rekam jejak itu dinilai menjadi modal penting dalam memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Dalam visinya, Gus Rozin menegaskan pentingnya membangun NU sebagai Jam’iyyah Diniyyah Ijtima’iyyah yang berlandaskan Qanun Asasi, Khittah NU 1926, dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyyah. Transformasi organisasi, menurutnya, bukan berarti meninggalkan jati diri NU, melainkan memperkuat fondasi yang diwariskan para muassis agar mampu menjawab tantangan zaman.

Visi tersebut diwujudkan melalui tiga pilar utama, yakni membangun organisasi yang berdaulat melalui tata kelola profesional dan mandiri, menghadirkan kepemimpinan yang bermartabat dengan menjunjung integritas serta musyawarah, serta memastikan NU semakin bermanfaat melalui penguatan pendidikan, pesantren, ekonomi, kesehatan, filantropi, ilmu pengetahuan, dan pelayanan sosial hingga tingkat ranting.

Gus Rozin juga mengusung lima prinsip kepemimpinan, yaitu akhlakul karimah, musyawarah, keadilan (‘adalah), khidmah, dan maslahah. Kelima prinsip tersebut menjadi landasan moral dalam setiap kebijakan organisasi agar kepemimpinan NU tetap berpihak pada kepentingan umat.

Selain itu, ia menyiapkan sejumlah program strategis yang mencakup penguatan ideologi Aswaja dan Khittah NU, pembenahan tata kelola organisasi yang transparan dan akuntabel, integrasi pendidikan NU, penguatan ekonomi jamaah melalui optimalisasi aset dan filantropi, transformasi digital, pengembangan kader ulama, hingga perluasan pelayanan sosial dan diplomasi global.

“NU yang besar bukan hanya karena sejarahnya, tetapi karena kemampuannya terus menghadirkan kemaslahatan bagi umat di setiap zaman,” tegas Gus Rozin.(Eko)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.