UNIB Gelar FGD Pelestarian Sungai Melalui Pengembangan Ekosistem Ikan Air Tawar Lokal

oleh -27 Dilihat

Mukomuko, – Komitmen menjaga kelestarian Sungai Air Berau di Kecamatan Pondok Suguh, Kabupaten Mukomuko, semakin menguat. Peneliti Universitas Bengkulu bersama masyarakat, nelayan, pemerintah desa, dan berbagai elemen lainnya sepakat mendorong langkah nyata untuk melindungi ekosistem sungai sekaligus menjaga keberlangsungan ikan air tawar lokal yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Kesepakatan tersebut dihasilkan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Studi Potensi Pelestarian Sungai Melalui Pengembangan Ekosistem Ikan Air Tawar Lokal (Studi Kasus: Sungai Air Berau) yang berlangsung di Balai Desa Lubuk Bento, Kamis (25/6). Sebanyak 32 peserta hadir dalam forum tersebut untuk merumuskan strategi pelestarian sungai berbasis partisipasi masyarakat.

FGD dipimpin oleh Dr. Eko Nofridiansyah, S.Pi., M.Sc., dosen Program Studi Kelautan dan Perikanan Universitas Bengkulu. Dalam pemaparannya, ia menyampaikan hasil penelitian awal yang menunjukkan adanya indikasi penurunan kualitas lingkungan Sungai Air Berau.

Data penelitian memperlihatkan kadar oksigen terlarut (DO) mengalami penurunan dari 5,36 mg/L di wilayah hulu menjadi 3,51 mg/L di bagian hilir. Selain itu, tingkat kekeruhan air tertinggi ditemukan pada kawasan yang banyak dimanfaatkan masyarakat untuk aktivitas sehari-hari seperti mandi, mencuci, dan kebutuhan rumah tangga. Sedimentasi yang meningkat serta berkurangnya vegetasi di bantaran sungai juga menjadi perhatian.

Penelitian turut mencatat sedikitnya 13 spesies ikan air tawar lokal masih menghuni Sungai Air Berau, di antaranya ikan semah (Tor douronensis), ikan garing (Tor tambroides), dan sidat (Anguilla spp.). Namun, nelayan mengakui hasil tangkapan ikan bernilai ekonomis tersebut terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam diskusi juga terungkap masih adanya praktik penangkapan ikan menggunakan racun dan setrum yang dinilai merusak ekosistem sungai. Selain itu, masyarakat menyampaikan kekhawatiran terhadap aktivitas galian C serta potensi dampak industri pengolahan kelapa sawit di sekitar daerah aliran sungai yang diduga dapat memengaruhi kualitas lingkungan.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Dr. Eko menegaskan seluruh informasi akan menjadi bahan kajian ilmiah lanjutan. Menurutnya, kondisi sungai dipengaruhi oleh berbagai faktor sehingga diperlukan pemantauan kualitas air secara berkala.

Sebagai hasil FGD, peserta menyepakati lima poin utama, yakni mendorong pelestarian sungai berbasis masyarakat, menolak praktik penangkapan ikan secara destruktif, mendukung pembentukan kawasan konservasi atau lubuk larangan, melakukan rehabilitasi bantaran sungai dan edukasi lingkungan, serta menyusun Peraturan Desa (Perdes) sebagai dasar hukum pelestarian Sungai Air Berau.

Tim peneliti Universitas Bengkulu selanjutnya akan menyusun rekomendasi teknis berdasarkan hasil penelitian dan aspirasi masyarakat. Sementara pemerintah desa bersama warga akan membentuk relawan sungai dan menyiapkan rancangan Perdes sebagai langkah konkret menjaga Sungai Air Berau demi keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.(Feri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.